Menemukan Makna Sebenarnya dari 3T dalam Ikatan Pelajar Muhammadiyah

Jika Anda adalah seorang kader IPM, pasti tidak asing dengan kata 3T, yang merupakan singkatan dari Tertib Ibadah, Tertib Belajar, dan Tertib Organisasi. Konsep 3T ini seharusnya menjadi fundamental dalam ikatan dan penting bagi seorang pimpinan IPM. Namun, pada kenyataannya, paradigma ini hanya diucapkan sebagai kata-kata kosong tanpa makna.

Dalam artikel ini, saya mengeksplorasi makna sebenarnya dari 3T dan mengapa kita harus memperdalam pemahaman kita tentang konsep ini. Pertama-tama, saya menyadari bahwa 3T bukan sekadar akronim biasa, tetapi sebuah paradigma yang mencerminkan cara pandang kita dalam menghadapi realita.

Dalam menjelaskan sejarah dari adanya 3T, H. Agus Sukaca, M.Kes menjelaskan bahwa 3T bermula karena stigma buruk yang melekat pada aktivis organisasi kepelajaran dan kemahasiswaan pada tahun 70-an hingga 80-an. Orang tua dan pendidik saat itu mulai memberi nasihat kepada para aktivis untuk mengurangi aktivitas organisasinya dan fokus pada prestasi studi mereka. Dari kondisi dan stigma tersebut, para tokoh PP IPM waktu itu mengembangkan konsep 3T.

Namun, apakah 3T masih relevan dan penting di era sekarang? Saya percaya bahwa 3T tetap relevan dan penting bagi kader IPM saat ini. Kita harus memahami bahwa 3T ada karena sejarah, dan realita yang dimaksud masih terjadi hingga sekarang dan perlu terus diperbaiki.

Namun, saya juga menemukan bahwa 3T kompleks dan bukan sesederhana diucapkan dan dijadikan sebagai media kampanye semata. Semua yang ada dalam sistem IPM, bagi saya, adalah implementasi dari 3T. Oleh karena itu, kita harus memperdalam pemahaman kita tentang konsep ini dan mengembangkan paradigma yang lebih baik untuk menghadapi realita saat ini.

Sayangnya, pembahasan tentang 3T hanya muncul sepintas pada materi ke-IPM-an melalui PKDTM maupun FORTASIyang diselenggarakan. Bahkan pembahasannya pun sederhana, berbeda dengan materi Appreciative Inquiry yang dibahas sangat mendalam. Oleh karena itu, kita perlu memperbanyak kajian khusus mengenai 3T secara mendalam dan membahasnya secara serius dalam rapat atau permusyawaratan IPM.

Akhirnya menurut saya, 3T adalah hal yang kompleks dan memerlukan pemahaman yang lebih dalam. Kita harus memahami bahwa 3T ada karena sejarah dan masih relevan hingga saat ini. Oleh karena itu, kita harus terus memperdalam pemahaman kita tentang konsep ini dan mengembangkan paradigma yang lebih baik untuk menghadapi realita saat ini.

3T Bukan Hanya Sebuah Kampanye

Setelah memahami sejarah dan makna yang lebih dalam dari 3T, kita bisa mengatakan bahwa 3T bukan hanya sebuah kampanye atau slogan semata, tetapi sebuah paradigma atau cara pandang dalam menghadapi realitas. Hal ini karena 3T hadir sebagai jawaban atas stigma buruk terhadap aktivis organisasi kepelajaran dan kemahasiswaan pada masa lalu, dan terus relevan hingga saat ini sebagai cara untuk menciptakan kader IPM yang tertib dalam tiga bidang tersebut.

Namun, seiring perkembangan zaman, tentu saja paradigma 3T tidak bisa diamati begitu saja tanpa ada perubahan atau pengembangan. Mungkin saat ini sudah saatnya untuk melakukan kajian khusus mengenai 3T secara mendalam dan mempertimbangkan apakah masih relevan atau tidak untuk diterapkan pada konteks yang lebih modern. Selain itu, para kader IPM juga perlu untuk memahami bahwa 3T bukan hanya sekedar kata-kata atau slogan, melainkan nilai yang harus diimplementasikan dalam tindakan nyata.

Menjadi Kader IPM yang Tertib dalam 3T

Sebagai seorang kader IPM, terutama yang baru bergabung, memahami dan mengimplementasikan nilai 3T menjadi hal yang sangat penting. Tertib ibadah, tertib belajar, dan tertib organisasi merupakan pondasi utama dalam membangun karakter yang baik, tidak hanya bagi diri sendiri tetapi juga bagi lingkungan sekitar.

Untuk menjadi kader IPM yang tertib dalam 3T, ada beberapa tips yang bisa dilakukan, antara lain:

  1. Membuat jadwal rutin untuk ibadah, belajar, dan kegiatan organisasi sehingga tidak terjadi tumpang tindih dan saling mengganggu.
  2. Menjaga disiplin dalam melaksanakan jadwal yang sudah dibuat, sehingga bisa mencapai tujuan yang diinginkan.
  3. Mencari tahu dan memahami nilai-nilai yang terkandung dalam 3T, sehingga bisa diimplementasikan dengan lebih baik dan mendalam.
  4. Menghindari tindakan yang bertentangan dengan nilai 3T, seperti bolos shalat, malas belajar, atau tidak disiplin dalam organisasi.
  5. Dengan mengimplementasikan nilai 3T secara konsisten dan mendalam, kita tidak hanya akan menjadi kader IPM yang baik, tetapi juga individu yang bermanfaat bagi masyarakat dan bangsa.

Kesimpulan

3T merupakan identitas lama yang masih terus dipegang oleh kader IPM hingga saat ini. Meskipun terlihat sederhana, 3T memiliki makna yang kompleks dan perlu dipahami secara mendalam. Sebagai paradigma atau cara pandang dalam menghadapi realitas, 3T hadir sebagai jawaban atas stigma buruk terhadap aktivis organisasi kepelajaran dan kemahasiswaan pada masa lalu. Namun, saat ini mungkin sudah saatnya untuk melakukan kajian khusus mengenai 3T secara mendalam dan mempertimbangkan apakah masih relevan atau tidak untuk diterapkan pada konteks yang lebih modern. Bagi kader IPM, memahami dan mengimplementasikan nilai 3T menjadi

Penulis: Subagus Sirojudin (Bendahara Umum PC IPM Solokuro Periode 2021-2023)

Posting Komentar

0 Komentar